banner ad

Mampukah Kita Memanfaatkan Kekayaan Ekonomi Udara Kita ?

Oleh :  Arista Atmadjati, SE.MM.

Sedangkan traffic penumpang sektor Internasional th 2009 , adalah : Garuda 2.218.560 pax, Air Asia 1.987.771 dan Lion air 389.584 sedangkan Sriwijaya air dan Batavia berkisar 200.000 an pax. ( sumber Koran Jakarta dan ,Kemenhub).

Dari data empiris traffic penumpang domestik diatas – sejak tahun 2001 menunjukkan kenaikkan jumlah penumpang hampir di setiap tahun secara signifikan (kecuali th.2007 karena imbas harga bahan bakar yang melambung dan pengurangan kapasitas seat karena Adam Air ditutup). Praktis sejak tahun 2003 sampai dengan 2009 kenaikan jumlah penumpang udara domestik mengalami peningkatan sebesar hampir 250% – sebuah peningkatan yang sangat tinggi .

Begitu banyaknya maskapai baru lahir disebabkan euphoria pebisnis penerbangan niaga yang bergairah memanfaatkan deregulasi Undang Undang Penerbangan di Indonesia sehingga kala itu di era tahun 2001 sangat memudahkan bagi pengusaha penerbangan mendirikan sebuah maskapai baru –hanya memiliki 1 pesawat saja sudah cukup untuk mendirikan sebuah ‘Maskapai penerbangan ‘.

Kisah sukses Sriwijaya Air yang didirikan oleh pengusaha Palembang – Chandra Lie pada tahun 2003 hanya dengan modal satu pesawat B737 seri 200 yang ‘kuno’ ternyata melahirkan sebuah blessing kerajaan Sriwijaya Air. Dalam tempo 6 tahun sudah memiliki sekitar 25 armada, termasuk yang relatif baru B737 seri 300/400. Malah, Lion air telah memesan 179 Boeng 737-900ER.

Banyak faktor yang mendorong pertumbuhan maskapai dan mendongkrak traffic penumpang udara kita , sebut saja – tumbuhnya beberapa propinsi baru karena imbas positip dari OTODA , perbaikan beberapa panjang landasan pacu di beberapa daerah luar Jawa sehingga maskapai dengan armada Boeing 737/200 atau 737/300 bisa masuk ke kota tersebut.

Misalnya, kota Sampit di Kalimantan Tengah saat ini bisa didarati oleh tipe pesawat B737 seri 200 , padahal sebelumnya hanya bisa didarati tipe pesawat Fokker 28 ataupun ATR 52. Belum lagi beberapa kabupaten juga tidak mau ketinggalan meningkatkan kapasitas landasan pacu daerahnya seperti di Wakatobi , Pangkal Pinang (propinsi baru ) ,Ternate (Maluku Utara ) . Pendek kata hampir semua wilayah udara RI seratus persen sudah terbuka oleh jangkauan moda transportasi udara , rasanya hanya propinsi Sulawesi Barat dengan ibu kotanya Mamuju- greget dan geliat moda transpotasi angkutan udaranya yang belum menggeliat walaupun saat ini Express Air sudah menerbangi ke kota Mamuju,SulBar .

Bentuk Negara RI yang berupa kepulauan yang sangat luas dengan penduduk hampir 250 juta , dengan 33 propinsi, tidak heran pilihan untuk mempercepat mobilisasi dan mendorong pergerakan ekonomi daerah yang paling cepat pilihannya adalah menggunakan moda transportasi udara . Saya mempunyai keyakinan sampai dengan th.2015 nanti bila business plan dari setiap maskpai di tanah air dengan pengembangan armadanya yang spketakuler seperti ekspansi Lion Air , Garuda Indoensia, maka jumlah espektasi 75 jutaan penumpang udara di tanah air adalah bukan angka yang mustahil. Apalagi di tahun 2010 ini sudah ada permohonan 7 maskapai baru yang meminta SIUP ( Surat Ijin Usaha Penerbangan) maskapai penumpang tidak berjadwal ke Kemenhub- akan semakin mempercepat petumbuhan penumpang angkutan udara di pasar domestik ke depannya.

Bagaimana dengan kawasan regional ?
Pada tahun 2009 bulan Februari di Kota Hua Hin, Thailand dalam pertemuan KTT ASEAN telah disepakati oleh semua kepala Negara ASEAN. Salah satunya adalah kerjasama yang dinamakan IMT-GT ( Indonesia Malaysia Thailand –Growth Triangle) yang meliputi kerjasama semua aspek ekonomi di wilayah propinsi selatan Thailand, Malaysia , serta pulau Sumatera di Indonesia .

Untuk wilayah di Timur Asean sebelumnya diteken bentuk kerjasama yang dinamakan BIMP-EAGA (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philipines –East Asean Growth AsscociationCountries) adalah dua payung kerjasama ekonomi yang sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh maskapai domestic kita untuk melebarkan sayap ke negara negara intra ASEAN , tentunya negara- negara ASEAN yang tergabung dalam organisasi IMT-GT dan BIMP-EAGA diharapkan dapat memberikan semacam insentip bagi maskapai sesama ASEAN yang akan menerbangi kota kota di propinsi setiap negara ASEAN tersebut.

Sayangnya hanya maskapai Riau Airlines yang memanfaatkan sebuah bentuk kerjasama IMT-GT tersebut . Pada bulan Februari 2010 , Riau Airlines secara berani menerbangi rute baru dari Pekanbaru ke Malaka (Malaysia), mendarat dilapangan terbang Antar Bangsa, Malaka. Sesuai dengan semangat kerjasama regional ASEAN , Riau Airlines mendapatkan insentif berupa ‘pemotongan biaya pendaratan ‘ sebesar 30 persen dari biaya normal serta kemudahan fasilitas bandara setempat, demikian dikatakan oleh PM. Malaysia Mohamad Najib bin Tun Abdul Rajak.

Langkah cerdas Riau Airlines ini agak terlambat bila dilihat dari kesempatan yang diambil oleh maskapai Malaysia-FireFly yang merupakan anak perusahaan Malaysian Airlines. Saat ini FireFly paling tidak sudah memasuki 4 kota di Sumatera , mulai Banda Aceh, Medan ,Pekan Baru, Batam serta sangat berambisi akan memasuki 10 kota pintu masuk di propinsi Sumatera. Langkah strategis FireFly tidak berhenti disini saja, ternyata di tahun 2010 – FireFly mengajukan ijin SIUP sebagai pemain maskapai lokal yang baru ke Kemenhub sebagai maskapai lokal tidak berjadwal . Saya yakin nantinya FireFly akan menerapkan bisnis model seperti Air Asia Indonesia yang sangat sukses sampai dengan saat ini.

Operator harus kreatif dan jeli melihat setiap peluang.

Kita ingat, dahulu sebenarnya ada satu maskapai di Indonesia yang sudah memanfaatkan kerjasama intra ASEAN di wilayah timur , seperti Bouraq Airline yang sudah tidak beroperasi . Kala itu Bouraq menerbangi Manado ke Davao dengan pesawat type lama Vicker Viscount dan cukup sukses . Pertanyaan kami , kenapa maskapai domestik kita saat ini hanya sebagai raja jagoan di kandang sendiri padahal pasar regional ASEAN kalau jeli seperti FireFly dan Air Asia akan juga mendapatkan revenue yang memadai apalagi revenue yang diterima tentunya dalam bentuk US dollar.

Sebenarnya saya amati langkah Wing Air dengan memindahkan homebase ke Manado dengan mayoritas menggunakan armada ATR sudahlah sangat tepat , mengingat ATR ini sangat cocok dipakai sebagai sarana angkutan udara komuter kepulauan dengan size penumpang tidak terlalu besar dan tidak memerlukan landasan pacu yang terlalu panjang. Namun alangkah lebih brilian bila Wings Air nantinya bisa melakukan ekspansi rute ke Davao, Philiphina – rute yang pernah dirintis Bouraq.

Selain faktor komersial tentunya juga faktor kedekatan emosial kemiripan etnik budaya orang Kawanua yang dekat dengan orang Philipina merupakan segment market tersendiri yang bisa digarap. Selain itu masih bisa melakukan ekspansi ke Sabah Sarawak yang merupakan kekuatan ekonomi yang bertumpu pada pertanian kelapa sawit dengan daya pikat Ringgitnya.

Memang semua terobosan bisnis termasuk didalamnya sektor transportasi udara perlu dicoba, malah yang terjadi kekayaan potensi ekonomi udara kita justru dimanfaatkan oleh operator-operator negara tetangga,seperti Air Asia, FireFly, JetStar, Virgin Aussie.Mereka adalah para operator yang menikmati kue empuk di udara wilayah RI .

Sudah saatnya operator tanah air sebagai pemain yang kreatif, imajinatif, visioner ke depan, jangan hanya bangga sebagai jagoan di pasar lokal saja.
Penulis :Analyst penerbangan niaga nasional


Popularity: 5% [?]

Filed Under: Bisnis Ekonomi

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply