banner ad

Dampak Anomali Cuaca Dalam Penerbangan

PARA penumpang kami yang terhormat. Beberapa saat lagi, kita akan men­da­rat di Bandar Udara Abdurrahman Saleh Malang. Tidak ada perbedaan an­tara Jakarta dan Malang. Cuaca di lokasi dikabarkan cerah,  suhu udara 23 derajat Celsius …”

Demikian pengumuman yang disampaikan pramugari pesawat Garuda yang pagi itu terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta ke Malang. Cuaca di Jakarta pada hari itu 30-31 derajat Celsius. Berarti ada selisih 7 derajat.

Melaporkan cuaca kepada para penum­pang di tengah perjalanan atau sebelum mendarat merupakan keharusan. Pasalnya, kondisi cuaca sangat berpengaruh dalam keselamatan penerbangan.
Perbedaan cuaca itu sering disebut sebagai anomali. Persisnya, menurut Kepala Stasiun Meteorologi Bandara Soekarno-Hatta Sridadi Budiharjo, anomali adalah perbedaan dari kondisi rata-rata cuaca. Mi­salnya ada para­meter cuaca atau suhu udara 26 derajat Celsius dan kemudian berubah menjadi 28,  maka  anomalinya adalah 2.

Apakah anomali ini bisa mengganggu penerbangan? “Ini tergantung dari parame­ter cuacanya. Tapi jika dihitung dari kondisi cuaca yang agak panjang, maka itu baru bisa disebut anomali dan bisa mengganggu penerbangan,” kata Sridadi.

Terganggu tidaknya penerbangan, menurut dia, juga tergantung dari cuaca secara keseluruhan, seperti arah angin, awan, dan sebagainya. Apalagi jika ada awan pununindus, “ini bisa mengganggu penerbangan dan bahaya,” katanya.

Saat ada awan pununindus, biasanya dibarengi dengan kilat atau petir. Sambaran petir, ungkap Sridadi, bisa berakibat  fatal terhadap peralatan navigasi dan elektronik yang berada di pesawat. Ini jelas sangat berbahaya. Begitu juga dengan  gunturnya.

Sangat penting

Kepala Kelompok Analisa dan Prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geo­fisika Bandara Soekarno-Hatta Bambang Suyantoko menjelaskan, anomali tidak serta merta membuat cuaca langsung berubah drastis dari panas ke dingin dan mempe­ngaruhi aktivitas manusia.

Tapi apa pun yang terjadi, informasi cuaca, baik di darat maupun udara sangat penting bagi dunia pe­nerbangan, apalagi jika ada perubahan cuaca seperti yang sekarang terjadi di Indonesia. Bulan Juli yang seharusnya sudah masuk ke musim kemarau, faktanya hampir setiap hari, terutama di Jakarta selalu hujan. “Karenanya anomali cuaca jelas memberi dampak besar terhadap kehidupan apa pun, termasuk di dunia penerbangan,” ujar Suyantoko.

Pentingnya informasi tentang cuaca dan kemungkinan terjadinya perubahan iklim bagi dunia penerbangan sebenarnya sudah dimulai ketika pembangunan lapangan terbang/bandara. Tinggi permukaan daratan dari permukaan laut, tidak adanya halangan di sekitarnya, akses ke pusat kota relatif mudah merupakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan.

Namun unsur penting yang harus diperhatikan adalah iklim di wilayah tersebut, seperti angin dan visibilitas/jarak pandang horizontal. Kabut lebih sering terbentuk di wilayah lembah yang luas, dan jika lokasi bandara terdapat pada sisi gunung di mana terdapat industri-industri yang banyak mengeluarkan asap, maka visibilitas akan makin terganggu.

Pengetahuan tentang iklim di suatu lokasi memungkinkan dunia penerbangan untuk mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh cuaca dan iklim yang me­ru­gikan seperti visibilitas rendah, turbulensi, badai guruh, geser angin, dan downburst.

Angin menentukan orientasi terbaik landas pacu agar pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat dengan selamat. Karenanya arah dan laju angin (kecepatan) rata-rata perlu dipertimbangkan oleh para penerbang.

Angin yang datang dari banyak arah namun tidak dominan tidak banyak mempengaruhi pesawat, apalagi yang berbadan besar. Jika suatu lokasi sedang tidak cocok untuk tempat pendaratan misal cuaca sedang buruk, biasanya pesawat akan mendarat di bandara alternatif.

Sebelum dan selama penerbangan, seorang pilot biasanya dibekali dengan informasi cuaca di bandara dan sekitarnya, dalam jalur penerbangan dan di lokasi tujuan. Pilot yang benar-benar profesio­nal tidak akan berani menerbangkan pesawat jika mendapatkan informasi cuaca yang diperkirakan akan membahayakan penumpang. Telah ratusan kali kejadian pesawat terbang jatuh akibat fenomena cuaca di dunia ini. Oleh karena itu informasi cuaca merupakan informasi yang sangat pen­ting dalam dunia penerbangan.(Edi/Uta)

?

Detect language » Indonesian

?

Detect language » Indonesian

Popularity: 3% [?]

Filed Under: FeaturedUncategorized

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply