banner ad

Road Map to Garuda IPO (3)

garuda indonesiaPaling lambat kwartal ke III tahun 2010, Garuda akan menggelar Initial Public Offering (IPO). Gelar IPO adalah semacam pemancangan mile-stone awal untuk menjalani perjalanan panjang menuju privatisasi.

Privatisasi bukan sekedar ganti baju ganti status yuridis formil dengan merubah aspek legalitasnya semata, tetapi yang lebih esensial adalah perubahan organisasi dan jiwa / semangat organisasi tersebut. Dengan bahasa manajemen, privatisasi berarti memperbaharui Visi Organisasi, Misi Organisasi, kemudian merubah sisi tehnisnya (Tehnical Sight ) yaitu Strategi dan Infra Strukturnya dan sisi manusianya (Human Sight ) menyangkut moral serta budaya kerja korporasi agar memenuhi tujuan untuk apa privatisasi itu dilakukan.

Secara umum diketahui bahwa peranan BUMN tidak terlepas dari maksud dan tujuan pendiri yang juga pemiliknya yaitu Negara RI yang diwakili Pemerintah sebagai penyelenggara Negara yang tugas utamanya mengamankan dan merealisasikan amanat Undang-Undang Dasar 45 khususnya pasal 33, yang maknanya penguasaan terhadap kekayaan negara yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak untuk sebesar-besar kepentingan rakyat.

Ketika kemerdekaan negara diperoleh dan penataan negara masih menjadi prioritas utama, sangatlah bisa dimengerti apabila ”founding-father” menomor satukan penguasaan aset nasional agar aman dan terjaga, tidak lagi dibawah kekuasaan penjajah, dan dioptimalkan untuk kepentingan rakyat. Agar tujuan ini terwujud, maka BUMN dikelola oleh aparat Pemerintah. Bisa diperkirakan, kompetensi mereka adalah kompetensi sebagai pejabat pemerintah.

Sejak 1 Agustus 1969, perusahaan-perusahaan milik Negara diatur dalam Undang-undang N0.9 Tahun 1969 dimana berdasarkan Pasal 2 UU tersebut dibedakan bentuk-bentuk Perusahaan Negara yang masing-masing mempunyai peranan dan tujuan berbeda yaitu : Perjan, Perum,dan Persero. Pada saat ini terdapat kurang lebih 200 BUMN, menangani berbagai sektor antara lain yang melayani kepentingan masyarakat seperti PJKA, PJ Pegadaian, yang melayani kepentingan umum untuk memperoleh keuntungan antara lain Perum Telkom dan Perum PLN serta Perusahaan negara yang diharapkan memupuk keuntungan yaitu PT.Perkebunan, dan PT.Garuda Indonesia.

Kentalnya peran Pemerintah baik yang menyangkut jati diri pengelolanya yang didominasi oleh jati diri abdi negara, menyebabkan pengelolaan BUMN tak ubahnya seperti pengelolaan Instansi Pemerintah pada umumnya yang kebanyakan adalah bersifat ”social worker” dan kurang berorientasi kepada kaidah-kaidah ekonomi sehingga sosok BUMN tak jauh dari sosok Instansi Pemerintah yang lain. Hal ini bukannya kesalahan dan bukan pula kekeliruan, sebab sesuai jamannya , periode tersebut memang diperlukan oleh Pemerintah yang memang masih membutuhkan peran BUMN sebagai andalan kelancaran pelaksanaan penyelenggaraan negara.

Kini kita masuki era Globalisasi, era yang menuntut kriteria lain bagi badan-badan pengelola usaha, maka ”distorsi” yang tingkatnya berlebihan yang dipikul oleh BUMN harus dikikis, agar mampu bertahan bahkan bersaing dengan badan usaha lainnya baik domestik maupun internasional.

Kesiapan BUMN untuk hal itu menjadikan pemikiran bahwa effektifitas pengelolaan lahan yang selama ini ditangani oleh BUMN diarahkan dan semakin dikendalikan secara profesional oleh tenaga-tenaga yang memang profesional pula. Maknanya adalah yang mengelola dan cara pengelolaannya harus semakin mengacu kepada kaidah-kaidah ekonomi yang puncaknya merubah BUMN menjadi perusahaan swasta.

Diharapkan dengan privatisasi tersebut BUMN bisa lebih lincah memainkan perannya, bersaing dengan perusahaan lain pada umumnya, tanpa distorsi lebih, namun juga semakin kecil ketergantungannya kepada pemerintah.

Disinilah kemudian proses Swastanisasi itu berjalan. Proses ini adalah proses transformasi total. Yang sangat mendasar sebetulnya adalah perubahan dibidang SDM sebab harus ada penyesuaian mind-set dan kompetensi karyawan, sehingga harus dilakukan transformasi untuk mengantarkan mereka dari paradigma yang selama ini mereka miliki kepada paradigma baru. Transformasi tersebut termasuk melakukan perubahan kriteria kompetensi dari seganap sumberdaya manusia agar sesuai dengan tuntutan paradigma baru. Dan proses transformasi ini adalah “long-journey”, memerlukan waktu yang panjang , tidak mungkin dilakukan secara tiba-tiba.

Fenomena-fenomena yang mendahului era globalisasi semakin hari semakin nyata misalnya semakin dirasakannya telah terjadinya persaingan bisnis yang sangat keras, bahkan kian menghebat dari waktu kewaktu karena batas-batas negara yang dulu juga menjadi batas teritori usaha semakin tipis dan konon pada akhirnya akan lenyap sama sekali.

Tingkat upah yang tinggi disuatu negara mengakibatkan terjadinya relokasi industri, diambil oleh negara yang memiliki faktor ”endowment” tenaga kerja. Implikasinya kemudian adalah industrialisasi akan bergeser mengikuti doktrin ”comparative advantage”. Dan mau tidak mau terjadi integrasi pasar domestik kedalam pasar global.

Bagi perusahaan domestik kemudian dituntut untuk bisa bersaing dipasar global, dan amatlah sulit bila selama ini perusahaan domestik khususnya BUMN masih memiliki banyak batasan dan beban , banyak campur tangan pihak lain, walaupun kadang-kadang campur tangan tersebut positif sifatnya, misalnya perolehan ”captive-market” dari pemerintah.

Kondisi pasar global mensyaratkan, hanya badan usaha yang efisien sajalah yang akan bisa bertahan. Inilah perlunya transformasi BUMN “menjadi” Perusahaan Swasta.

Selain Visi, Misi Garuda harus pula mengalami perubahan. sesuai tuntutan baru, infra struktur dan SDM nya perlu dirubah sesuai tuntutan paradigma baru. Organisasi Garuda masih sangat gemuk Hal ini tak terlepas dari kondisi pada awal pendiriannya, menyandang misi tak tertulis sebagai penyedia lapangan pekerjaan, sehingga kalkulasi perlu tidaknya unit kegiatan diadakan, tidak dilakukan secara cermat.

Garuda kini harus mampu menjadikan rasio antara ”core-employee” dan ”supporting-Employee” sesuai rasio standar industri penerbangan internasional. Apalagi kini eranya adalah penggunaan ”high-technology” maka harus ada upaya keras untuk pengurangan karyawan, utamanya dibagian ”supporting”.

Manajemen SDM yang menyangkut Sistim Renumerasi di Garuda diketahui secara umum kurang bisa merangsang timbulnya motivasi Sebagai pegawai BUMN memang tidak memperoleh renumerasi sebesar renumerasi perusahaan swasta, namun di Garuda cukup memadai untuk pekerjaan yang dilakukannya, bahkan ditambah berbagai fasilitas yang diperolehnya , bila ditotal bisa lebih besar.

Mereka memiliki rasa keamanan lebih, terlindung dari kemungkinan perlakuan / tekanan berlebihan dari manajemen, memperoleh jaminan hari tua berupa pensiun dan sebagainya. Karyawan bisa mencapai karir tertinggi tanpa usaha luar biasa sebab ada kenaikan pangkat berkala, tanpa melihat perusahaan untung atau rugi masih banyak hutang atau tidak punya hutang. Dalam konotasi negatif dibicarakan bahwa sebagai syarat keberhasilan karyawan BUMN adalah asalkan bisa mengikuti arus, pasti selamat dan maju. Semua persepsi ini harus dirubah, termasuk pemberian ID-ticket bagi karyawan yang sudah berhenti bekerja di Garuda.

Gelar IPO Garuda harus disebar luaskan,dan disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Sosialisasi tersebut meliputi penghayatan tentang perbedaan antara BUMN dan ”Private-Bussiness”, kebaikan dan kekurangan masing-masing badan usaha tersebut, alasan-alasan perubahan, dan penjelasan rinci jalan yang akan ditempuh, sehingga karyawan betul-betul dibawa dari pemahaman tentang paradigma BUMN kepada imajinasi paradigma Perusahaan swasta.

Motivasi menuju kompetensi baru harus dibangun dengan sistim manajemen kinerja yang argumentasinya bisa diterima oleh semua tingkat karyawan. Argumentasi kebenaran sistim tersebut diantaranya adalah: Hanya perusahaan yang berkembang yang mampu memberi kesempatan berkembang pegawainya, hanya perusahaan yang memperoleh ”profit” yang bisa berkembang besar.

Keyakinan karyawan terhadap Sistim Manajemen Kinerja akan tumbuh dan akan memotivasi kinerjanya apabila sistim tersebut sesuai dengan tuntutan nurani yang ”universal” yaitu adanya sistim ”reward & penalty” yang membuat pegawai merasa dihargai sesuai kinerjanya .

Gelar IPO Garuda adalah perubahan “total concept”, perubahan paradigma . Kita berharap, mudah-mudahan Garuda sudah melakukan semua persiapan diatas diawal tahun 2010 ini. Kalau belum ? Wah Repot ! (Tunggul Tranggono,TM)

Popularity: 4% [?]

Filed Under: Fokus

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply