banner ad

Road Map to Garuda IPO (5)

Sosialisasi, adalah kata kunci bagi suatu  institusi atau organisasi dalam merencanakan suatu program atau kegiatan yang akan diselenggarakan. Terlebih program ini berhubungan langsung terhadap kepentingan institusi atau organisasi dan orang-orang yang ada di dalamnya (Stakeholders).

Rencana Garuda Indonesia untuk IPO (Initial Public Offering) adalah sebuah rencana besar yang melibatkan tidak hanya faktor diluar (external) juga faktor didalam (internal) dari Garuda Indonesia sendiri. Sudah siapkah Garuda untuk menyelenggarakan IPO tahun ini juga?

Sekjen Sekarga(Serikat Karyawan Garuda) Tomy Tampatty berpendapat, bahwa pada prinsipnya IPO ini tidak bisa dihindari karena IPO ini sudah  ada dasar hukumnya, yaitu UU No 19 tahun 2003 tentang BUMN, bahwa dimungkinkannya pu-blik  diberi ruang untuk memiliki saham dari BUMN. Sekarga bersama serikat karyawan dibawah Sekber karyawan pernah menolak tentang beberapa pola diluar UU no 19 tahun 2003 seperti Strategic Partner, karena  untuk menilai layak atau tidaknya partner yang diajak ini tidak bisa dikontrol publik.

Sekarga setuju tentang IPO itu sendiri. Hal yang  menimbulkan pertanyaan Tomy serta Sekarga adalah “Sudah siapkah Garuda sekarang ini untuk Go Public? Persyaratan go public harus mencetak untung selama dua tahun berturut-turut karena yang di Expose ke public adalah prospek. Yang dikhawatikan kalau untung itu sendiri tidak real atau untung jadi-jadian. Karena kalau berita itu sampai ke para investor dikhawatirkan akan dianggap melakukan kebohongan publik. Kalau memang Garuda sudah siap, maka Sekarga pun ikut mendukung, demikian menurut Tomy di kantor Sekarga, Duri Kosambi.

Menurut kacamata Sekarga Garuda untuk saat ini membutuhkan persiapan sosialisasi kepada karyawan yang hanya mengetahui berita mundurnya IPO lewat media masa. Kalau memang membutuhkan persiapan berarti Garuda sendiri belum siap untuk Go Public. Indikasi yang mengatakan bahwa Garuda sendiri belum siap untuk Go public dapat dilihat dari banyaknya permasalahan hutang Garuda kepada kreditur. Sekarga mendukung tentang usulan pemerintah tentang pelunasan hutang domestik Garuda karena menurut Tomy, bahwa apabila hutang tersebut belum dilunasi dan bukan Restrukturisasi maka akan mempengaruhi nilai se-hingga nantinya akan terjadi Under Value.

Sekarga bertanya-tanya tentang kenapa manajemen sekarang memaksakan Garuda untuk go public. Kalau memang sudah ada Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) serta memberikan keuntungan  kenapa Garuda harus menjual aset? Kalau memang sudah siap serikat pegawai turut mendukung. Beliau berharap Garuda jangan dijual dalam posisi Under Value dan harapan dari Sekarga agar Pemerintah lebih serius dalam menanggapi permasalahan tersebut.

Selain tata kelola SDM yang masih belum selesai di tubuh BUMN kebanggaan bangsa Indonesia itu, sampai kini Perjanjian Kerja Bersama antara Perusahaan dan Karyawan PT. Garuda belum tercapai. Hal ini menunjukan Garuda masih mengalami permasalahan internal, justru kenaikan gaji manajemen Garuda telah menjadi perbincangan ramai diantara karyawan yang mengharapkan bentuk nyata dari perbaikan kesejahteraan yang hanya menjadi slogan. Alih-alih, manajemen sibuk mengandalkan cara-cara pencitraan yang sedang populer di Indonesia belakangan ini.

Ikatan Awak kabin PT. Garuda Indonesia (IKAGI) melalui Ketuanya kepada Aviasi Z. Malik belum dapat menentukan sikap terkait rencana IPO PT. Garuda. Malik beralasan ketidak pastian kapan jadinya IPO tersebut menyebabkan IKAGI belumi belum melakukan tindakan apapun. Karena hal tersebut harus dipelajari betul-betul dan bukan hal yang mudah. Malik menambahkan bahwa awak kabin telah memiliki Agenda khusus untuk menanggapi IPO itu, menurutnya agenda tersebut di anggap penting, namun belum Urgent.
Harapan IKAGI tentang IPO harus transparan, karena Perusahaan Go Public harus memberikan kompensasi kepada karyawan, Karena menurut Malik perusahaan milik negara yang akan di jual harus memberikan kompensasi kepada karyawan yang memang sudah dicantumkan di Perjanjian Kerja Bersama, namun sampai sekarang belum ada kesepakatan.

Pilot Garuda yang bernaung dibawah Asosiasi Pilot Garuda (APG) terhadap rencana Garuda Indonesia untuk Go Public juga angkat bicara.”Pada dasarnya kami mendukung seratus persen terlaksananya Go Public Ga- ruda Indonesia. Karena Garuda akan mendapatkan kucuran dana dari masyarakat, mengingat persentase saham yang akan dilepas ke masyarakat sebesar empat puluh persen.” Jelas Presiden APG – Capt. Stephanus.

APG meminta kesiapan yang matang dari Garuda untuk mendapatkan nilai maksimal atau mencapai target karena belum lama ini uang yang diberikan Pemerintah juga sudah banyak dan belum signifikan bagi perbaikan Garuda.

Stephanus menilai bahwa sosialisasi yang sangat minim menimbulkan simpang-siurnya informasi di kalangan pilot tentang mundurnya rencana IPO. Ini menunjukan bahwa Garuda belum siap sepenuhnya menghadapi IPO pada tahun ini juga. Selain revenue yang positif minimal selama dua tahun berturut-turut, juga ketentuan dari Meneg. BUMN yang mengharuskan BUMN yang akan Go Public melunasi semua hutang domestiknya, kata Stephanus mengingatkan.

Kalau IPO ini memang akan terwujud nanti, agar manajemen tetap mengedepankan kesejahteraan karyawan dan kepemilikan saham mayoritas (minimal 51%) tetap dipegang oleh Garuda Indonesia, harapnya.(TM)

Popularity: 3% [?]

Filed Under: Fokus

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply