Sistem Navigasi Pesawat Terbang

JAUH sebelum pesawat terbang diciptakan oleh Wright bersaudara, kapal laut telah lebih dulu diciptakan oleh peradaban manusia. Di dalam kitab suci pun tertulis bahwa Nabi Nuh menciptakan kapal laut yang sangat besar yang di dalamnya berisi umat-Nya serta bermacam fauna.

Seiring dengan waktu, teknologi navigasi kapal laut pun berkembang. Pada mulanya sistem navigasi hanya menggunakan tanda-tanda sederhana di permukaan laut yang mudah dilihat dan diingat. Sehingga perjalanan dengan kapal laut sederhana itu belum mampu menempuh jarak jauh.

Kemudian teknologi sistem navigasi berkembang, yakni menggunakan pola perbintangan di langit sebagai penunjukan arah. Pola cuaca juga dimanfaatkan untuk menentukan arah angin dan fenomena cuaca lainnya. Ini pun tergolong masih sederhana tentunya.

Itu berbeda dengan teknologi navigasi dewasa ini yang menggunakan koordinat suatu titik yang diukur dari penentuan garis bujur dan garis lintang, serta dikombinasikan lagi dengan beberapa satelit GNSS yang menghasilkan penentuan posisi yang sangat akurat. Dengan teknologi seperti itu, tingkat kesalahan sangat kecil.

GNSS adalah Global Navigation Satellite System atau bahasa awamnya disebut GPS (Global Positioning System). Setelah pesawat terbang ditemukan, peralatan navigasi pun dimasukkan sebagai bagian dari pesawat terbang. Tak heran jika ukuran jarak terbang tetap menggunakan satuan ukuran Nautical Mile (mil laut). Demikian pula ukur­an kecepatan pesawat yang menggunakan ukuran knots yang artinya nautical mile per hour (mil laut per jam). Sama persis de­ngan ukuran satuan di kapal laut.

Navigasi (diambil dari bahasa Inggris Navigation) berasal dari bahasa Latin ‘navis’ dan ‘agere’. Navis atau nafs dalam bahasa Yunani artinya kapal, sedangkan agere berarti bergerak menuju.

Sehingga arti dari kata navigasi secara umum adalah suatu kapal yang bergerak dari satu tempat menuju ke tempat tujuan. Kalau begitu yang pertama kali menemukan sistem navigasi tentulah orang Yunani?  Ternyata bukan.

Yang menemukan sistem navigasi purba adalah orang Mesir kuno. Sungai Nil yang arusnya pelan dan tidak bergelombang, serta pemandangan di sekitar sungai yang indah meyakinkan orang Mesir untuk membuat kapal dari rumput yang dianyam sedemikian rupa, lalu menjadi kapal yang indah, untuk berlayar di sepanjang sungai itu. Kapal di masa itu ramai dipergunakan sebagai alat transportasi, mencari ikan, atau sekadar hiburan saja. Dari sinilah sistem navigasi sederhana berawal.

Akan tetapi ekspedisi kapal laut dengan jumlah besar, megah, dan penggunaan alat navigasi yang terlengkap pada masa itu adalah bangsa China.

Laksamana Cheng Ho

Pada tahun 1405-1433, Dinasti Ming yang ketiga, yakni Kaisar Zhu Di mengutus para pelaut ulungnya untuk berlayar ke seluruh dunia dengan kekuatan armada lima kapal besar. Masing – masing kapal memiliki berat 1.500 ton, panjang 120 meter dan mampu mengangkut 7.000 penumpang. Total semua awak kapal adalah 20.000, termasuk pelaut, tentara China, kartografer (ahli pembuat peta), peralatan, cendera mata, serta perbekalan.

Ekspedisi ini dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho yang termasyur itu. Cheng Ho menggunakan sistem navigasi yang sangat akurat. Mereka telah mampu membuat Compass Rose (alat penunjuk arah magnetis), Theodolite (sebuah alat dengan teleskop yang berputar untuk mengukur sudut vertikal dan horisontal), serta peralatan untuk sistem navigasi perbintangan (Celestial Globe Navigation ).
Mereka juga memanfaatkan pola bintang Salib Selatan (The Southern Cross ) sebagai sarana penunjukan arah. Tujuan ekspedisi ini adalah untuk mempromosikan perdagangan China serta memperluas pengaruh China ke seluruh dunia. Di samping itu juga untuk membuat peta daratan dan lautan di seluruh dunia. Pembuatan peta benua Afrika, Amerika, Asia, Australia, sebagian Eropa, bahkan Antartika dimulai dari ekspedisi tersebut. Jadi Laksamana Cheng Ho-lah yang pertama kali menemukan benua Amerika. Ekspedisi pelayaran Christopher Columbus terjadi 87 tahun kemudian, yakni th 1492. Peta yang dipakai Columbus adalah hasil buatan Cheng Ho yang telah dimodifikasi.

Dasar – Dasar Navigasi Udara

Prinsip dari navigasi udara adalah mener­bangkan pesawat udara dari satu tempat ke tempat yang dituju dengan perencanaan yang akurat agar tidak tersesat, tidak melanggar aturan hukum dan aturan keselamatan, baik di udara maupun di darat.

Untuk itu penerbang mesti mempersiapkan beberapa hal yang terkait dengan misi itu, yakni:
a. Titik/Tempat keberangkatan (A).
b. Titik tujuan (B).
c. Arah magnetis dari perjalanan itu.
d. Jarak yang akan ditempuh.
e. Kecepatan rata-rata pesawat.
f. Jumlah bahan bakar yang harus dibawa.
g. Keadaan cuaca, baik di titik A, B, maupun cuaca sepanjang perjalanan. Keadaan cuaca ini sangat penting, mengingat akan mempengaruhi waktu tempuh (yang berpengaruh lagi pada konsumsi bahan bakar ) serta arah angin yang kemungkinan berubah-ubah, sehingga arah pesawat harus disesuaikan lagi supaya tidak terbawa angin yang berakibat salah arah. Sederhana bukan? (*)

Dipublikasikan di Tabloid Aviasi Edisi 28 Thn II – Oktober 2010
Kunjungi juga http://epaper.tabloidaviasi.com

Popularity: 10% [?]

Filed Under: Iptek

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply