banner ad

Weather Radar, INTUVUE vs ROCKWELL

Sudah dari sejak dulu cuaca buruk menjadi momok bagi penerbangan. Fenomena alam ini memang tak terelakan, maka dari itu menghindari adalah satu-satunya cara. Untuk itu radar cuaca bertugas, mendeteksi cuaca buruk didepan pesawat terbang yang bisa membahayakan penerbangan agar dihindari sedini mungkin.

Dulu saat pesawat terbang belum dilengkapi radar, mata penerbang haruslah peka dan berpengalaman melihat tanda-tanda awan dan kondisi cuaca. Radar cuaca pesawat terbang (aircraft weather radar) akhirnya mengantikan peran mata penerbang. Gelombang radar berpendar dan memantulkan sifat-sifat tertentu dari fenomena cuaca yang terjadi. Radar analog yang disajikan pada layar monochrome hanya menampilkan informasi lokasi dimana turunnya hujan dan fenomena cuaca secara umum. Kemampuan menampilkan tanda-tanda badai dan cuaca buruk belum bisa ditampilkan secara akurat.

Saat ini berkat teknologi digital, olahan data dari radar yang bekerja ditampilkan dalam bentuk animasi berwarna sehingga penerbang bisa lebih waspada terhadap bahaya. Sel-sel pembentuk awan badai (thunderstorm) ditampilkan dalam bentuk dua dimensi (2D), dengan tingkat bahaya (heavy rain) ditampilkan dalam warna merah dan paling berbahaya warna magenta yang mengindikasikan pusat dari awan badai itu sendiri yang dapat mengakibatkan turbulensi.

Penerbang bisa menghindarinya dengan berbelok ke kiri atau ke kanan. Tentu saja keputusan ini berakibat semakin jauhnya dari rute yang direncanakan, penerbangan menjadi terlambat, dan konsumsi bahan bakar makin banyak terbuang. Tapi ini lebih baik daripada resiko dihempaskan badai yang bisa mengakibatkan korban jiwa.

IntuVue
Meskipun canggih, radar cuaca saat ini masih ada kekurangan. Dua perusahaan raksasa avionik dan elektronik penerbangan, Honeywell dan Rockwell Collins bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar radar cuaca generasi baru (next generation weather radar).
Dua-duanya bisa “melihat” keadaan cuaca lebih jauh sampai jarak 320 nm, bila dibandingkan radar biasa yang hanya sekitar 100 nm dan pendeteksian mulai dari ketinggian 0 sampai dengan 60,000 feet. Radar berteknologi baru ini lebih akurat dan sensitif untuk memperingan beban (fully automatic) dan kewaspadaan penerbang dalam pendeteksi windshear, mengatasi bahaya cuaca dengan peringatan bahaya turbulensi sejauh 40 nm plus kemampuan ground mapping yang lebih handal.

Kedua produk memakai pendekatan yang berbeda. Honeywell lewat produk RDR-4000 IntuVue menggunakan kompresi pulsa (pulse compression) yang telah lama dipakai untuk proyek radar militer. Selain itu RDR-4000 memiliki keunggulan lain, antena radar dapat melakukan scan tiga dimensi (3D), bergerak 90 derajat kekiri dan kekanan.

Hasilnya layar radar selain menampilkan tampilan atas yang biasa juga dapat menampilkan tampilan samping. Awan badai bak dibelah dan penerbang dapat melihat “isi” dari badai itu. Penerbang bisa memiliki alternatif lain untuk menghindari awan badai ini yaitu naik (climb) melewati puncak awan badai. Jelas akan lebih hemat bahan bakar dan waktu perjalanan jika dibandingkan dengan berbelok dari rute penerbangan yang telah ditentukan.

MultiScan
Rockwell Collins memiliki sistem yang berbeda. Rockwell mengklaim inovasi scan volume RDR-4000 itu hanya dapat menampilkan kondisi cuaca yang terbatas dan berakibat tidak akuratnya pendeteksian mengingat sifat awan badai yang berbeda-beda pada masing-masing bagian.

Awan badai  terbagi atas tiga bagian berdasarkan tingkat refleksi yaitu bagian bawah mengandung banyak air dengan tingkat refleksi gelombang radar paling tinggi, bagian tengah dengan tingkat refleksi menengah karena mengandung air dan kristal es, terakhir bagian atas yang sepenuhnya terdiri atas kristal es. Tingkat refleksi rendah pada bagian atas awan badai karena sifat kristal es yang memantulkan gelombang radar sangat buruk sehingga tidak jarang tidak terdeteksi radar. Padahal dari puncak ini gelombang turbulensi berbentuk busur (turbulence bow wave) bisa sering terjadi.

Untuk itu Rockwell mengeluarkan produk WXR-21000 MultiScan. Seperti namanya, antenna radar melakukan multi scan, scan atas, tengah, dan bawah akan disatukan (merge) yang menghasilkan gambar digital awan badai. Metode multiscan juga bermanfaat bisa menghasilkan informasi akurat tanpa terpengaruh lengkungan dan topografi bumi jika dibandingkan gelombang radar konvensional. Suatu keunggulan jika ingin mendapatkan informasi cuaca saat terbang rendah.

Solusi
Kedua tipe radar terbaru ini memang sulit ditentukan mana yang terbaik, masing-masing memiliki keunggulan sekaligus juga kekurangan. Tapi bisa jadi kedepan, keunggulan IntuVue yang menyajikan tampilan 3D diadopsi oleh Rockwell. Sementara sebaliknya keunggulan teknologi multiscan membuat Honeywell memproduksi radar yang lebih baik lagi.

Menurut data yang dikeluarkan maskapai asal Amerika Serikat, Delta Airlines, cuaca buruk memegang 75% dari faktor keterlambatan penerbangan. Dengan perkiraan pertambahan lalu lintas penerbangan mencapai 65% dari periode 2003-2014, bisa menyebabkan kerugian mencapai $641 juta pada tahun 2003 dan mencapai hampir $1 milyar pada tahun 2014.

Selain untuk menekan kerugian, radar cuaca generasi baru merupakan solusi bagi peningkatan keselamatan terbang mengingat sepertiga kasus kecelakaan adalah akibat cuaca buruk. Meskipun tidak menimbulkan kecelakaan fatal, efek dari turbulensi saja sangat berbahaya. Penumpang dan crew sering terlambat mendapatkan peringatan adanya bahaya turbulensi dan sering terluka karena goncangan hebat tiba-tiba. Dari fakta dan statistik ini maka sangat diperlukan radar cuaca generasi baru, handal, akurat dan dengan sistem yang sangat mudah dipelajari penerbang. Dengan kemampuan “melihat” yang lebih jauh diharapkan penerbang dapat memberitahukan peringatan kepada crew dan penumpang lebih cepat 3-6 menit sebelum goncangan yang membahayakan terjadi.

Tidak mengherankan kedua produk ini dipercaya maskapai untuk pesanan pesawat komersial terbaru miliknya. Sebagai contoh saja Singapore Airlines (SIA) telah memasang IntuVue untuk armada Boeing B777-300ER dan juga Airbus A380, Superjumbo yang baru saja dibeli. Sementara untuk Rockwell, WXR-21000 MultiScan dipakai untuk A320 pesanan maskapai Egypt Air, A340 maskapai Thai Air serta B737NG pesanan Qantas dan China Shandong Airlines. Dari dalam negeri sendiri B737-900NG milik Lion Air telah dipasang IntuVue, sementara Garuda Indonesia memutuskan menggunakan Rockwell Multi Scan pada B737-800NG.(sudiro)


Popularity: 15% [?]

Filed Under: Iptek

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply