banner ad

Abu Vulkanik Mengguncang Penerbangan Eropa

Meletusnya gunung Eyjafjallajoekull di Islandia menimbulkan kekhawatiran otoritas penerbangan Eropa akan keselamatan penerbangan di Eropa. Otoritas penerbangan menghentikan sementara kegiatan penerbangan untuk mencegah terulangnya insiden yang menimpa pesawat British Airways Flight 009 pada tanggal 24 Juni 1982.

Dampak Ekonomi Bagi Penerbangan
Menurut Badan Eksekutif Uni Eropa, krisis penerbangan yang ditimbulkan oleh abu gunung berapi (volcanic ash) Eyjafjallajoekull di Islandia yang berlangsung sejak 15 sampai 20 April 2010 telah menelan kerugian mencapai € 2,5 miliar (£ 2,2 miliar). Penutupan sebagian besar bandar udara di Eropa karena letusan gunung berapi  ini menyebabkan lebih dari 100.000 pembatalan penerbangan, dan menelantarkan 10.000.000 penumpangnya.
Awan abu vulkanik yang ditimbulkan oleh gunung berapi berdampak besar pada dunia penerbangan. Karena konsentrasi abu vulkanik yang terdiri dari berbagai partikel seperti kaca, pasir dan bebatuan saat melayang di udara dapat merusak mesin pesawat, juga ketebalannya yang membatasi jarak pandang mata.

Speedbird 9
Pada tanggal 24 Juni 1982 musibah menimpa pesawat British Airways dengan Call Sign Speedbird 9. Diakibatkan oleh abu vulkanik Gunung Galunggung yang meletus pada tanggal 5 Mei 1982. Letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.  Pener- bangan nomor 009 maskapai tersebut menerobos abu Gunung Galunggung yang menyebar sampai Samudra Hindia, selatan Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahaya abu yang dialami British Arways  dapat mengancam ke- selamatan 248 penumpang dan 15 awak Boeing 747-200. Kapten pilot bahkan telah menyampaikan kepada menara pengawas Halim Perdana Kusuma untuk rencana mendaratkan pesawat ke laut (ditching).

Ketika pesawat memasuki abu vulkanik ini, keempat mesinnya tiba-tiba mati mendadak. Peristiwa ini menghebohkan, pasalnya pesawat melayang turun dari ketinggian 36.000 kaki (11. 000 m) ke 12.000 kaki (3.700 m). Untungnya pada ketinggian terakhir tadi ketiga mesin dapat dihidupkan kembali. Pesawat kemudian mendarat darurat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta, untuk sementara waktu menunggu perbaikan, penggantian mesin, dan pembersihan.

Musibah yang hampir sama terjadi pada tanggal 15 Desember 1989 saat Penerbangan B747-400 terbang melintasi awan abu vulkanik dari letusan Gunung Redoubt, yang menyebabkan kegagalan di empat mesin karena kabin kompresor yang terganggu. Akhirnya kru bisa restart mesin dan melanjutkan penerba-ngan, kemudian mendarat dengan aman di Anchorage. Bukan hanya gangguan mesin saja yang terjadi, kaca depan pesawat menjadi buram akibat gesekan dengan abu silika. Akibatnya pilot hanya mengandalkan alat navigasi yang terdapat di pesawat itu.

Apa Yang Terjadi Ketika Pesawat Menghadapi Awan Abu?

Menurut produsen pesawat, terbang melalui awan abu harus dihindari dengan segala cara. Airbus mengatakan, pengalaman menunjukkan kerusakan fatal dapat terjadi pada permukaan pesawat, kaca depan dan pembangkit listrik, sedang-  kan ventilasi, hidrolik, elektronik dan sistem data udara juga bisa terganggu.

Abu vulkanik mengandung partikel-partikel yang segera akan melebur jika melalui mesin. Setelah melewati turbin, material abu yang meleleh tersebut akan dingin secara sangat cepat, kemudian menempel pada baling-baling turbin dan mengganggu aliran pembakaran.
Bahaya abu vulkanik tidak dapat dideteksi oleh radar yang terdapat di pesawat karena halusnya partikel tersebut. Pilot hanya mengandalkan pengamatan secara visual. Jika pada keadaan cuaca buruk maupun gelap, maka pilot tidak dapat mendeteksi abu vulkanik. Jika ada letusan gunung, otoritas penerbangan akan menyampaikan informasi kepada pilot melalui Notice to Airman (NOTAM). Dengan informasi ini maka akan dicari jalur penerbangan yang lebih aman untuk menghindari abu vulkanik dengan memperhitungkan juga arah angin yang akan membawa abu tersebut.

Ring of Fire
Indonesia berada dalam wilayah Cincin Api (Ring of Fire). Ring of  Fire adalah daerah yang memiliki jumlah besar gempa bumi dan letusan gunung berapi yang terjadi di cekungan Samudra Pasifik. Dalam radius km 40.000 (25.000 mil) yang memiliki bentuk seperti tapal kuda. Di wilayah Ring of Fire ada 452 gunung berapi dan lebih dari 75% dari gunung berapi teraktif di dunia.

Gunung berapi di Indonesia termasuk yang paling aktif di Cincin Api Pasifik. Beberapa gunung berapi yang terkenal karena letusan misalnya, Krakatau untuk efek global pada tahun 1883, Gunung Tambora yang memiliki  letusan terkeras dalam catatan sejarah pada tahun 1815 menyebabkan gagal panen di Utara Eropa, Timur Laut Amerika Serikat, dan Kanada Timur. Tahun 1816 dikenal sebagai Tahun Tanpa Musim Panas (Year Without a Summer).

Gunung berapi masih aktif diantaranya Kelud dan Merapi di pulau Jawa. Gunung Kelud telah meletus lebih dari 30 kali, letusan yang terbesar adalah pada skala 5 pada Volcanic Explosivity Index, sementara Merapi telah meletus lebih dari 80 kali.
Keganasan letusan gunung berapi dapat menyebabkan berbagai bencana dan kehancuran, letusan gunung berapi di masa lalu seperti Gunung Pelee, Tambora, Krakatau dan Pinatubo telah mengakibatkan dampak buruk dari aktivitas gunung berapi baik di lingkungan dan   masyarakat sekitarnya. Bahkan dapat memicu perubahan iklim seluruh dunia! (MY, diolah dari berbagai sumber )

Popularity: 5% [?]

Filed Under: Liputan Khusus

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (1)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. Rita says:

    info yg bagus :)

Leave a Reply