banner ad

Terbangnya si Pesawat Impian

Setelah terlalu lama dalam penantian, Boeing B787 Dreamliner terbang perdana pertama kalinya pada tanggal 15 Desember 2009, sekaligus menepis keraguan yang meliputi pengembangannya. Penerbangan perdana pada pagi hari itu disaksikan langsung oleh para pekerja, perwakilan maskapai dan tentu para eksekutif Boeing sendiri. Pesawat sempat terhenti sesaat ketika pilot mulai menyalakan kedua mesin sekaligus membuat jantung orang-orang yang menyaksikan debut penerbangan pertamanya itu berdebar-debar.

Pada pukul 10.27 waktu setempat ditengah cuaca dingin berawan, pesawat ini tinggal landas. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak sebagai tanda keberhasilan kerja keras mereka saat Dreamliner mengudara dari Evereet Paine Field Airport, Washington sekaligus melaksanakan uji terbang guna mendapatkan sertifikasi dari Federal Aviation Admistration (FAA). Selama tiga jam lebih delapan menit Dreamliner terbang, melakukan tes penerbangan standar sebelum mendarat satu jam lebih awal dari yang direncanakan akibat masalah cuaca. Menurut test pilot  Capt.Mike Carriker dan kopilot Randy Neville  yang menerbangkan pesawat ini, pesawat bekerja seperti yang diharapkan dan mudah diterbangkan. Dreamliner ini adalah satu dari enam unit yang telah disiapkan untuk melakukan tes-tes penerbangan selama 9 bulan. Dijadwalkan penerbangan kedua akan dilakukan pada tanggal 22 Desember 2009.

Mahakarya Teknologi
Boeing B787 Dreamliner merupakan pengganti dari proyek ambisius Sonic Cruiser, pesawat komersial pengganti Concorde yang mampu terbang supersonik. Krisis minyak dunia menyebabkan banyak maskapai lebih memilih pesawat yang hemat bahan bakar. Proyek yang semula bernama 7E7 ini dimulai Januari 2003 dan diganti namanya menjadi B787 pada awal 2005 dan diharapkan mulai beroperasi pada Mei 2008.

Lahirnya Dreamliner adalah sebagai suatu mahakarya teknologi. Betapa tidak, sekitar 50% material yang dipergunakan untuk membangun Dreamliner adalah material komposit, material ringan namun kuat. Produk sebelumnya yaitu B777 yang terbang pada tahun 1994 hanya memakai 12% terdiri atas komposit sementara sisanya masih banyak yang terbuat dari metal. Angka 12% itupun ditujukan terbatas untuk pemakaian bagian-bagian kemudi seperti flap dan rudder. Sedangkan pada Dreamliner, material komposit paduan karbon plastik telah diaplikasikan pada sebagian besar badan pesawat dan juga sayap.

Dari sini Boeing dapat mengklaim bahwa pesawat dapat terbang lebih tenang, nyaman bagi penumpang dan mengurangi polusi serta hemat bahan bakar sekitar 20% . Sifat komposit yang tidak mudah rusak sekaligus mudah diperbaiki akan menjadi nilai tambah maskapai yang mengoperasikannya. Penghematan perawatan bisa mencapai 30%.

Tidak heran, sebelum lahir Dreamliner telah menjadi pesawat paling laku. Total sejumlah 850 unit telah dipesan dari pembeli seluruh dunia pada September 2009, dengan launch customer All Nippon Airways (ANA) yang telah memesan sebanyak 50 unit pada April 2004.

Untuk membangung pesawat Boeing melakukan kerjasama dengan beberapa pihak, mirip dengan pesaing utamanya Airbus. Berbeda dengan Airbus yang melakukan kerjasama / konsorsium antara negara-negara Eropa semata alias hanya satu benua, Dreamliner dibuat dengan melakukan kerjasama internasional, terpisah antar benua dan samudra. Jepang, Italia, dan tiga kota di Amerika yang berbeda, Charleston, South Carolina, dan pemasangan terakhir di markas Boeing, Everret, Washington.

Sebagai sarana transportasi udara pendukung perakitan, Boeing membuat pesawat kargo berdimensi sangat besar, Dreamlifter. Tidak perlu membuat yang baru, Boeing mengambil empat unit B747 cargo eks China Airlines, Air China dan Malaysia Airlines yang kemudian diubah menjadi Large Cargo Freighter (LCF) dengan modifikasi memperbesar bagian badan sehingga dapat memuat komponen-komponen Dreamliner untuk dirakit.

Keterlambatan
Inovasi teknologi komposit dalam Dreamliner  ternyata menimbulkan masalah. Banyak gangguan yang menyebabkan keterlambatan di pihak negara-negara subkontraktor untuk mengirimkan komponen sesuai jadwal. Hambatan terjadi lagi saat ada pemogokan buruh selama 8 minggu tahun 2008. Dengan keterlambatan ini, ANA sebagai launch customer baru akan mendapat pesanan pertamanya  pada akhir 2010.

Gangguan tersebut tersebut menjadi masalah, terutama di penguatan pada daerah sayap dan badan yang baru berhasil lolos tes hanya dua minggu sebelum penerbangan perdana dilakukan. Keterlambatan bahkan mencapai lima kali, yang menyebabkan kekecewaan bagi maskapai dan kerugian bagi Boeing sendiri. Beberapa maskapai seperti S7 asal Rusia dan Qantas memutuskan untuk membatalkan pesanan. Penerbangan perdana yang dijadwalkan tahun 2007 molor menjadi dua tahun. Tapi semua yang berat akhirnya terlampaui.

Ada tiga varian yang diperkenalkan, B787-8 (base model), B787-9 (stretched), dan B787-3 (short-range) dengan bandrol harga mulai kisaran dari US$ 150 juta-205.5 juta. Dengan kapasitas 250-290 penumpang, pesawat ini ditujukan untuk mengganti pesawat wide body Airbus A300/310 dan Boeing B757/767 mulai tahun 2010 mendatang.

Menjadi Kenyataan
Penerbangan perdana Dreamliner menjadi mimpi (dream) yang terwujud sekaligus mematahkan olok-olok bahwa ini pesawat yang hanya sebatas impian tanpa pernah terwujud. Penerbangan ini juga sebagai langkah awal dalam menghadapi sang kompetitor, Airbus A350. Saat ini Airbus masih disibukan dengan pengembangan Airbus A380 Jumbo Jet, membuat jadwal debut penerbangan perdana A350 baru akan dilaksanakan pada tahun 2012.
Penerbangan perdana ini satu langkah dari sebuah perjalanan panjang, teramat panjang untuk dapat merebut tahta sebagai pesawat legendaris dan paling laku terjual seperti yang dilakukan pendahulunya, B707 dan B737. Angka pemesanan 850 unit baru hitungan diatas kertas. Tapi dengan kepiawaian serta segudang pengalaman yang dimiliki Boeing hal ini bisa saja terjadi.

Dreamliner dengan segala kecanggihan teknologinya tidak lupa memperhatikan dampak operasionalnya terhadap lingkungan. Emisi karbon yang lebih rendah dengan efisiensi bahan bakar plus terbang dengan tingkat polusi suara yang sangat rendah membuat pesawat ini berada di tingkatan paling maju saat ini. Kehadiran Dreamliner dapat menjadi bukti bahwa industri penerbangan adalah industri yang sangat memperhatikan dan ramah pada lingkungan. (sudiro)


Popularity: 16% [?]

Filed Under: Liputan Khusus

Tags:

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply