Memilih Sekolah Penerbangan, Awal Karir di Industri Aviasi

aviation schoolTingginya tingkat pertumbuhan penumpang di Indonesia tentunya membawa berkah buat kemaslahatan masyarakat, manakala beberapa sektor industri lain mengalami kelesuan, bahkan industri penerbangan dunia mengalami penurunan, sektor penerbangan kita mengalami peningkatan signifikan diatas pertumbuhan ekonomi Indonesia setiap tahun.

Presiden ICAO (International Civil Aviation Administration), Roberto Kobeh Gonzales, awal Agustus 2008  di Denpasar, Bali, pernah memberikan peringatan kepada praktisi penerbangan Indonesia. Roberto menyatakan bahwa, dunia penerbangan Indonesia, katanya, sangat timpang karena tidak berimbangnya segi bisnis dengan sumber daya manusia (SDM). Akibatnya, banyak terjadi pembajakan serta pengarbitan SDM. Hal ini merupakan bahaya laten yang amat membahayakan aspek keselamatan penerbangan. Sarannya, laju petumbuhan bisnis penerbangan nasional harus diperlambat.

Untuk mendukung pertumbuhan industri penerbangan, kebutuhan sumber daya manusia menjadi tinggi. Lihat saja berbagai iklan dan tawaran bekerja di maskapai dalam dan luar negeri marak di media maupun dari mulut ke mulut. Hingga kini maskapai besar seperti Garuda dan Lion Air saja masih kekurangan tenaga pilot, cabin crew, teknisi, dispatcher, dll. Belum lagi penerbangan regional seperti Susi Air, Ekspres Air, Wing Air, penambahan rute dan pesawatnya membutuhkan tidak sedikit tenaga kerja.

Sangat disayangkan jika Indonesia tidak mempersiapkan sejak dini tenaga kerja ahli dibidang ini. Fakta ini tidak bisa dilepaskan dari sektor pendidikan penerbangan di Indonesia. SDM Lembaga pendidikan dengan sistim yang baik, lengkap sarana dan prasarana pengajaran, serta kualitas dan kuantitas pengajar atau instruktur yang tinggi, tentu akan menghasilkan lulusan yang mumpuni dan berkompetensi.

Lihat saja banyaknya perpindahan tenaga kerja antar perusahaan, belum lagi tenaga pilot asing di berbagai maskapai, bahkan tenaga instruktur pun sudah ada yang didatangkan dari luar negeri. Garuda, BUMN penerbangan Indonesia juga menyesuaikan diri dengan tuntutan service, saat ini  sedang mendidik cabin crew dari negara Cina, Korea dan Jepang untuk melengkapi diri sebagai maskapai bintang empat versi Sky Track.

Untuk memenuhi kebutuhan SDM di penerbangan berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak. Mulai dari mendirikan sekolah kejuruan penerbangan(SMK), pelatihan profesi, sampai melakukan training di luar negeri karena terbatasnya kapasitas dan mahalnya biaya di dalam negeri. Fasilitas pendidikan pun mulai dari ruko-ruko sampai sekelas hotel berbintang, seperti sekolah pilot di Buleleng Bali.

Berbagai pihak pun melihat  peluang ini dari berbagai perspektif. Misal saja Pemda Tangerang, yang kebetulan wilayahya terdapat gerbang udara Indonesia, Soekarno-Hatta. Pemda tangerang  dengan Walikotanya Wahidin Halim segera mendirikan SMK penerbangan dua tahun lalu, tidak tanggung-tanggung Tangerang mengalokasikan 4,5 hektar tanah untuk segera membuka sekolah setingkat universitas khusus penerbangan. Wahidin memang dikenal getol dalam memajukan bidang pendidikan, bahkan Wahidin telah mendapatkan penghargaan dari Presiden.

Ada juga yang melihat peluang kebutuhan SDM khususnya pilot untuk tujuan bisnis. Sekolah pilot di Buleleng, Bali yang didirikan oleh Robby Johan yang mantan Direktur Garuda memberikan bandrol US $ 55.000. untuk dididik menjadi pilot. Tidak main-main, Robby menempatkan putrinya sendiri untuk mengelola bisnis tersebut. Dengan dibantu tenaga mantan Garuda dan instruktur asing, sekolah pilot ini telah meluluskan 21 pilot dan telah diserahterimakan kepada PT. Garuda.

Selain mengandalkan pihak lain dalam mencetak tenaga ahli dalam penerbangan, berbagai maskapai pun mengupayakan pelatihan dan pendidikan sendiri. Saat ini pembangunan pusat pelatihan dilakukan oleh Sriwijaya Air menyusul maskapai lain seperti Lion Air dan Batavia, lokasinya dekat Soekarno-Hatta. Diharapkan, dengan fasilitas training center ini kebutuhan SDM di maskapai ini dapat dipercepat. Merpati juga dikenal sebagai maskapai yang memberikan pelatihan dan pendidikan profesi bidang penerbangan yang harganya relatif bersaing. PT. Gapura Angkasa, yang merupakan anak perusahaan Garuda lebih memilih Merpati sebagai tempat mendapatkan license FOO karena lebih murah, padahal Garuda sendiri memiliki training center di Cengkareng, yaitu GITC.
Untuk mewujudkan keinginan pemuda-pemudi menjadi tenaga profesional di bidang penerbangan dapat melalui berbagai cara. Mulai dari memasuki sekolah setingkat menengah, pendidikan tinggi, atau melamar ke maskapai untuk di-training. Hampir semua provinsi telah memiliki SMK penerbangan, saat ini jumlahnya 25. Jika telah lulus dari SMK atau SMU bisa melanjutkan ketingkat sekolah tinggi atau universitas khusuh penerbangan. Selain itu, dapat juga memilih sekolah di pusat pusat pendidikan yang di selenggarakan oleh Pusdiklat Perhubungan Udara di berbagai daerah, seperti Palembang, Jaya pura, Medan, Surabaya, Makasar.

Untuk berbagai profesi yang hanya membutuhkan waktu singkat, Dephub juga memberikan sertifikasi kepada lembaga pendidikan dan profesi untuk menyelenggarakan training dan pendidikan. Harus diwaspadai karena tidak semua yang mengaku dapat menyalurkan kerja ke perusahaan telah mengantungi izin sesuai CASR (Civil Aviation Safety Rules). Tanyakan validasi izinnya, karena setiap tahun harus diperbaharui oleh Dephub.

Hampir semua profesi dibutuhkan oleh industri penerbangan Indonesia saat ini, terutama yang berhubungan langsung dengan interaksi bisnisnya dilapangan atau disebut Front liner. Pilot, Cabin Crew, Enggineer, FOO ( Flight Operation Officer), ATC (Air Traffic Controller) adalah beberapa profesi yang disebut front liner. Untuk Supporting Bussines, Ahli dalam bidang IT dan tenaga Marketing yang kreatif sangat diminati. Dibidang kargo, pengetahuan tentang logistik dan Dangerous Good sangat diperlukan karena regulasi yang mewajibkannya.

Perkembangan teknologi juga berperan dalam kebutuhan SDM. Sampai saat ini PT. Garuda telah menawarkan pensiun dini bagi karyawan yang dianggap telah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan perusahaan maskapai tersebut. Tenaga back office kini semakin tergusur dengan komputerisasi. Sistim penjualan maskapai telah berali ke sistim on line dan direct reservation. Garuda bahkan mengoptimalkan cabin crew nya untuk menggaet loyal costumer di setiap penerbangan .

Keandalan mesin dari pabrik juga menyebabkan tenaga ahli mesin dan rangka (Engine and Airframe)semakin sedikit dan digantikan teknisi Avionic/Radio Engineer yang lebih  diminati maskapai untuk maintenance dan trouble shooting armadanya yang berteknologi digital. Apalagi inflight entertainment yang semakin canggih di berbagai pesawat baru yang dilengkapi teknologi audio, video, game bahkan penggunaan internet dimasa yang akan datang.

Bandar udara juga saat ini berkembang pesat dan semakin canggih. Tenaga yang dibutuhkan mulai dari ATC, Engineer kelistrikan, IT developer, bahkan airport security yang mempunyai kualifikasi khusus sebagai aviation security. Rencana yang sebentar lagi terwujud untuk open sky, dimana setiap airport harus memiliki standar kompetensi profesi untuk menjamin bandara memiliki tingkat keselamatan dan keamanan penerbangan internasional.

sekolah aviasi

Biaya Pendidikan
Memang, biaya pendidikan dibidang penerbangan sering menjadi kendala bagi masyarakat tidak mampu. Disinilah peran berbagai pihak untuk mencari solusi, mulai dari Pemerintah, pelaku industri sampai penyelenggara pendidikan dan pelatihan. Belum lama ini DPR dan Pemerintah telah menyetujui anggaran yang cukup besar untuk mendukung terselenggaranya biaya terjangkau bagi masyarakat. STPI Curug saja digelontorkan 2(dua) Triliun lebih untuk penyediaan pesawat dan sarana simulator di sekolah penerbangan yang berdiri sejak 1 juni1952 tersebut.

Bagi yang mampu  tidak masalah, hitung-hitungannya biaya tersebut akan kembali dalam waktu yang tidak lama. Sebut saja pilot atau cabin crew, dengan membayar sendiri biaya pendidikan (pilot: 400-550 juta, cabin crew: 20-25 juta, FOO: 25 juta), setelah diterima bekerja memang dapat mengembalikan investasi tersebut setelah 2 (dua) tahun. Namun, apakah kesempatan itu hanya milik yang mampu ?

Mengingat besarnya biaya pendidikan dan pelatihan profesi penerbangan, berbagai upaya dilakukan. Mulai dari pemberian beasiswa seperti yang dilakukan STPI Curug, ikatan kerja dengan perusahaan atau instansi, bahkan kerja sama dengan Bank dan koperasi seperti yang ditempuh BIFA, Bali. Bahkan, Batavia Air menawarkan peminat profesi pilot melalui sekolah pilotnya Aeroflyer dengan ikatan kerja 15 tahun disertai jaminan.

Untuk mempertahankan kompetensi dan penyegaran (Proficiency and reccurent), biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Untuk itulah berbagai pihak melihat hal ini dari berbagai sisi. Dapat dianggap sebagai biaya tetap atau investasi yang berujung tingkat keselamatan tertinggi bagi perusahaan dan instansi. Undang-undang dan regulasi internasional seperti ICAO dan IATA merekomendasikan Mandatory training bagi berbagai profesi dibidang penerbangan.

Banyak maskapai kini memiliki izin menyelenggarakan sendiri jenis  mandatory  training tersebut. (TM)


Popularity: 51% [?]