Merealisasikan Cita-Cita ’Saya Mau Jadi Pilot’
aviasi | Apr 14, 2011 | Comments 1
SAYA mau jadi pilot.” Inilah jawaban anak-anak jika orang tuanya bertanya kalau besar nanti mau jadi apa. Anak-anak membayangkan pilot identik dengan kegagahan, karena bisa menerbangkan burung besi dengan ukuran yang amat besar.
Mereka sama sekali tidak membayangkan bahwa untuk menjadi pilot perlu sekolah khusus dan memerlukan biaya besar, masih pula dituntut dengan disiplin yang tinggi, pun demikian dengan tanggung jawab.
Jumlah sekolah di Indonesia yang menempa seseorang menjadi pilot andal juga tidak banyak, tidak seperti perguruan tinggi negeri atau swasta yang bertebaran di mana-mana. Salah satu sekolah pilot yang jumlahnya tidak banyak itu adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug.
Waktu belajar untuk menjadi pilot di STPI Curug bervariasi, ada yang 15 bulan, 18 bulan sampai 25 bulan. Begitu juga untuk pendidikan calon teknisi penerbangan. Khusus untuk teknisi, jangka waktunya tidak terpaut jauh dengan calon pilot.
Begitu lulus dari STPI Curug, para calon pilot diarapkan harus benar-benar memenuhi kualifikasi untuk bisa langsung bekerja sebagai pilot di perusahaan penerbangan. Tapi apakah semudah itu? Tidak juga. Sebab menurut Capt. Jupridon Gandoz, Kasubag Administrasi Pendidikan STPI Curug, mereka yang telah lulus dari sekolah ini tidak otomatis bisa langsung bekerja di perusahaan penerbangan.
Dia menjelaskan ada tahapan lain yang harus dipenuhi calon pilot disesuaikan dengan kebutuhan maskapai penerbangan. Oleh sebab itulah perusahaan penerbangan seperti Garuda misalnya merasa perlu untuk terus memantau perkembangan STPI Curug. “Garuda belakangan ini banyak membantu STPI Curug, terutama dalam hal pembinaan dan peralatan,” kata Gandoz.
Meskipun di bawah naungan Garuda, tidak otomatis para pilot lulusan STPI Curug bisa langsung bekerja di Garuda. “Untuk bisa diterima bekerja di Garuda, calon pilot lulusan STPI Curug harus mengikuti tes yang juga sangat ketat,” katanya.
Tidak mudahnya seorang lulusan STPI Curug langsung menjadi pilot, menurut Gandoz, tergantung dari kompetensi, kapabilitas dan pemahaman diri taruna yang bersangkutan sewaktu mengikuti pendidikan.
Dilatarbelakangi tuntutan seperti inilah dari waktu ke waktu STPI Curug terus memperbaiki sistem pendidikannya, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang memenuhi standar baku sebagaimana dituntut dunia penerbangan.
Tenaga Teknisi Penerbangan
STPI Curug, selain mencetak para pilot juga melahirkan calon teknisi di bidang lalu lintas pesawat (ATC). Mereka inilah yang nantinya akan menjadi pemandu pesawat saat akan mengudara atau mendarat.
Menghasilkan tenaga Air Traffic Controll (ATC) juga menjadi andalan lulusan STPI Curug. Pernah terjadi di STPI Curug, pendidikan untuk mencetak petugas ATC sempat dihentikan pada tahun 1999. Namun sejak tahun 2000 sampai sekarang dibuka kembali.
Dulu STPI Curug bernama PLP (Pendidikan Latihan Penerbangan) Curug. Semua program studi yang menyangkut pendidikan kepenerbangan dicoba dihidupkan lagi, termasuk pendidikan pilot dan lalu lintas udara. Lulusan STPI kini tersebar di bandara-bandara di seluruh tanah air. Namun, tidak bisa dipungkiri masih ada beberapa yang tidak tertampung, sehingga mereka kembali masuk pendidikan untuk mengikuti program D-3 atau D-4.
Menurut Presiden Federasi Pilot Indonesia Capt. Manotar Napitupulu, begitu lulus dari sekolah pilot atau teknisi pesawat, seseorang memang belum tentu bisa langsung bekerja di perusahaan penerbangan atau bandara. “Masuk ke Garuda pun harus dites lagi, meskipun STPI Curug bekerjasama dengan PT Garuda,” katanya.
Total kebutuhan pilot untuk di Indonesia dan kebutuhan regional diprediksi sebanyak 1.750 dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Nah, peluang masih terbuka lebar. STPI Curug bertanggung jawab untuk ini. Tapi, semuanya tergantung dari para siswa, mampu tidak mengikuti segala aturan yang diberlakukan di STPI Curug. (Edi)
Dipublikasikan di Tabloid Aviasi Edisi 28 Thn II – Oktober 2010
Kunjungi juga http://epaper.tabloidaviasi.com
Popularity: 18% [?]
Filed Under: Liputan Utama
About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.






assalammualaikum wr.wb.
Mas, saya mw nanya.
tinggi saya sekitar 167 dan berat badan saya sekitar 58. Apa saya bisa masuk stpi curug mas??????
Tapi saya lihat taruna di stpi tingginya rata2 175 ke atas.
Mohon bantuannya Mas.
wassalam