Peran Jasa ‘Ground Handling’

Ground handling adalah suatu kegiatan airlines yang berkait­an dengan penanganan atau pelayanan terhadap para penumpang berikut bagasinya, kargo, pos, peralatan pembantu pergerakan pesawat saat pesawat berada di airport, baik untuk departure maupun arrival.

Ruang lingkup dan batas pekerjaan ground handling yaitu pada fase atau tahap pre flight dan post flight, yaitu penanganan penumpang dan pesawat selama berada di bandar udara.

Secara teknis operasional, aktivitas ground handling dimulai pada saat pesawat taxi (parking stand), mesin pesawat sudah dimatikan, roda pesawat sudah diganjal (block on) dan pintu pesawat sudah dibuka (open the door) dan para penumpang sudah dipersilakan untuk turun atau keluar dari pesawat. Maka pada saat itu para staf darat sudah memiliki kewenangan untuk meng­ambil alih pekerjaan dari Pilot In Command (PIC) beserta cabin crewnya.

Berdasarkan sejarah perkembangan perusahaan ground handling di Indonesia, munculnya perusahaan ground handling bermula dari adanya kegiatan perpindahan Bandar Udara Kemayoran, Jakarta Pusat ke Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur sambil menunggu selesainya pembangunan bandar udara baru yang lebih modern Soe­karno-Hatta. Pada saat yang ber­samaan Garuda Indonesia yang kala itu juga berperan sebagai penyedia jasa ground handling bagi maskapai penerbangan asing mulai “kewalahan” menghadapi adanya tuntutan dari pihak users yang menginginkan pelayanan dan perhatian yang lebih maksimal dari Garuda Indonesia terhadap penanganan ground handlingnya.

Berdasarkan sejarah kelahirannya, sebenarnya kegiatan ground handling merupakan bagian integral dari lingkup pekerjaan dalam suatu perusahaan penerbangan, di mana terdapat dua kegiatan utama yang dilakukan perusaha­an penerbangan, yaitu pertama, ke­giatan di kantor kota (Town Office) yang lebih dominan mengerjakan urusan pemasaran/sales and service dan admini­strasi keuangan serta umum. Kedua, kegiatan operasional kestasiunan di bandar udara.

Jadi, kegiatan ground handling merupakan bagian atau divisi operasional perusahaan penerbangan yang dipimpin oleh seorang kepala stasiun sebagai manajer operasi.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul ide untuk mendirikan perusaha­an yang khusus menyediakan jasa/layanan ground handling, karena tidak sedikit perusahaan penerbangan asing (internasional) yang menyinggahi Indonesia.

Beberapa perusahaan penerbangan asing yang membuka rute ke Jakarta dan Denpasar dipastikan akan menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusaha­an lokal sebagai representative agent atau dikenal dengan istilah Ge­neral Sales Agent (GSA).

Pada hakekatnya ada tiga komponen utama penyelenggaraan bisnis penerbangan dapat berjalan, khususnya ground handling.

Ketiga komponen tersebut adalah pertama, perusahaan penerbangan (airlines), berikut sarana angkutnya berupa pesawat terbang (aircraft). Kedua, bandar udara (airport); dan ketiga, konsumen (dalam hal ini passangers dan shipper).

Ketiga komponen utama ini secara sendiri-sendiri memiliki keterkaitan dengan unit-sub unit lainnya yang memiliki peran tidak kecil. Sederhananya, kegiatan atau pekerjaan ground handling dapat terlaksana kalau ada perusahaan penerbangan, ada pesawat, ada bandar udara dan ada calon penumpangnya. Tanpa itu semua, maka ke­giatan ground handling tidak akan ada. Dua komponen yang sangat terkait secara langsung adalah perusahaan penerbangan dan bandar udara.

Secara umum, sebuah airport harus memiliki sarana dan prasarana minimal, yaitu landasan pacu pesawat yang memenuhi syarat (runway), me­nara pengontrol lalu lintas udara (air traffic control), dan gedung terminal (terminal building). Berdasarkan area, bandar udara dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, ialah sisi darat (land side) dan sisi udara (air side).

(Edisi 60 Thn VI – Juni 2013)

Popularity: 2% [?]

Filed Under: Liputan Utama

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.