Keberadaan dan Peran ICAO dalam penerbangan Sipil Internasional

BAGI kita yang berkegiatan dalam bisnis pelayanan jasa penerbangan sipil, ada baiknya kita memahami keberadaan dan peran ICAO dalam dunia penerbangan sipil.
Sejarah berdirinya ICAO :

International Civil Aviation Organization (ICAO) adalah badan dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang  kegiatannya menyiapkan peraturan penerbangan sipil internasional, melakukan distribusi  dan melakukan pemantauan serta evaluasi terhadap penerapannya.
ICAO lahir atas prakarsa negara-negara sekutu Amerika, tepatnya pada tanggal 01 November 1944 sampai dengan 07 Desember 1944 (selama lima minggu), 52 (lima puluh dua) negara-negara sekutu Amerika berkumpul di Chicago :
  • Mengadakan konperensi yang dikenal sebagai “Chicago Conference 1944” .
  • Membahas masalah-masalah  penerbangan sipil yang harus di­selesaikan pada akhir masa perang dunia;
  • Konperensi Chicago 1944 menghasilkan 6 (enam) dokumen dan 96 (Sembilan puluh enam) artikel :
  • Artikel ke 91 ditandatangani tanggal 07 Desember 1944, serta diratifikasi oleh 26 (dua puluh enam) negara.
  • Dikenal sebagai “Chicago Convention 1944” (Konvensi Chicago 1944).
  • Konvensi Chicago 1944 menjadi cikal bakal lahirnya ICAO pada tahun 1947. Sifat peraturan hasil Konperensi Chicago adalah (SARPs) Standard And Recommended Practice artinya ada peraturan yang merupakan keharusan/”mandatory” dan ada peraturan yang hanya bersifat “recommended”/direkomendasikan.
6 (enam) dokumen hasil Konperensi Chicago :
  1. The Convention on International Civil Aviation (Chicago Convention 1944).
  2. International Air Services Transit Agreement (IASTA).
  3. International Air Transport Agreement (IATA).
  4. Draft of 12 Tehnical Annexes (Annex 1 – 12).
  5. Standard form of Bilateral Agreement (Chicago Form Agreement).
  6. The Provisional International Civil Aviation Organization (PICAO).
Status Konvensi Chicago 1944 :
  1. Merupakan Konvensi Penerbang­an Sipil Internasional yang sangat berpengaruh;
  2. Merupakan sumber hukum internasional dibidang penerbangan sipil;
  3. Secara moral mengikat setiap negara anggota PBB (negara yang merdeka dan berdaulat), melalui instrumen “Ratifikasi” atau “Adhere”(penundukan diri);
Sejarah lahirnya ICAO :

ICAO lahir didahului dengan terbentuknya “panitia persiapan pembentukan ICAO” yang terkenal de­­ng­an PICAO (Provisional Civil Aviation Organization).
  1. PICAO terbentuk resmi tanggal 6 Juni 1945 di Montreal Canada.
  2. Berfungsi sampai dengan tanggal 4 April 1947.
  3. ICAO resmi terbentuk tanggal 4 April 1947, di Montreal Canada.
  4. Menjadi badan dibawah PBB tanggal 13 Mei 1947.
  5. Setiap negara anggota PBB (ne­gara yang merdeka dan berdaulat) dapat menjadi anggota ICAO.
Sebagai negara anggota PBB, Indonesia merupakan peserta konvensi atas dasar  “Adhere” (penundukan diri), dan tanggal 27 April 1950,  secara resmi tercatat sebagai tanggal masuknya Indonesia menjadi anggota ICAO;
Kepentingan dan tujuan utama ICAO adalah Kamanan & Keselamatan, Efisiensi dan Keteraturan (Security & Safety, Efficiency, Regularity).
Kantor pusat ICAO berada di Montreal (Canada).
Kantor wilayah tersebar di 7 (tujuh) wilayah :
  1. Mexico City (Mexico).
  2. Lima (Peru).
  3. Paris (Perancis).
  4. Dakkar (Senegal).
  5. Cairo (Egypt).
  6. Nairoby (Kenya).
  7. Bangkok (Thailand).
Bahasa yang dipergunakan ICAO dalam penerbitan dan penyebaran regulasi di bidang penerbangan sipil adalah (Inggris, Perancis, Spanyol, Arab, China dan Rusia).
ICAO memiliki 5 (lima)
Sekretariat :
  1. Air Navigation Bereau;
  2. Air Transport Bereau;
  3. Technical Assistance Bereau;
  4. Legal Bereau;
  5. Bereau of Administration and Service;
ICAO memiliki 7 (tujuh) Komite :
  1. Air Navigation Committee;
  2. Air Transport Committee;
  3. Commitee On Join Support of Air Navigation Services;
  4. Legal Committee;
  5. Commitee On Unlawful Interfe­rence with  Aircraft;
  6. Financial Committee;
  7. Personal Committee;
Mengenal 5 (lima) Kebebasan Di Udara (The Five Freedom of The Air) :
  1. Pesawat udara sipil berhak untuk terbang melintasi ruang udara lain, tanpa mengadakan pendaratan, asalkan negara yang dilintas terbangi itu sebelumnya diberitahu dan memberikan izin. Kebebasan ini dinamai :  “Hak untuk melakukan Terbang Lintas Damai” (The Right of Innocent Passage).
  2. Pesawat udara sipil suatu ne­gara berhak untuk  mengadakan pendaratan di negara lain untuk keperluan teknis misalnya untuk pengisian bahan bakar atau menjalani perbaikan tanpa memberikan pelayanan komersial ke atau dari tempat pendaratan tersebut. Pemberhentian ini dikenal sebagai : “Pemberhentian Teknis” (Technical Stop), sebagai lawan dari “Pemberhentian Lalu Lintas” (Traffic Stop).
  3. Pesawat udara suatu perusahaan penerbangan berhak untuk menurunkan penumpang dan barang dari negara tempat pesawat udara itu didaftarkan        (Country of Registry) Ke Negara Lain.
  4. Pesawat udara suatu perusahaan penerbangan berhak untuk meng­angkut  penumpang dan barang dari negara lain ke negara tempat pesawat udara itu di daftarkan.
  5. Pesawat udara suatu perusahaan penerbangan  berhak untuk me­ngangkut penumpang dan barang antara dua negara diluar tempat pesawat udara di daftarkan, sepan­jang penerbangannya berawal atau berakhir di negaranya sendiri tempat pendaftaran pesawat udara dilakukan. Hak tersebut dinamai sebagai “HakTambahan”  (Beyond Rights).
Hirarki Peraturan :
  1. Negara anggota menerapkan peraturan khususnya yang bersifat “Standard” (mandatory).
  2. Beberapa konvensi harus diratifikasi kedalam peraturan internal negara anggota dalam bentuk undang-undang, disesuaikan dengan keterkaitan aturan lain yang berlaku.
  3. Sebagai penerapan peraturan internasional,  peraturan yang dibuat oleh negara anggota minimum standard dengan ICAO, sedangkan untuk alasan / pertimbangan keamanan dan ke­selamatan,  negara anggota dapat membuat peraturan nasional relatif  lebih ketat.
  4. Peraturan produk negara anggota dan penerapannya, dilaporkan/di  informasikan  kepada ICAO.
  5. Peraturan produk ICAO bersifat universal.

( Tjuk Sudarsono Instruktur Transportasi Udara & Praktisi Penerbangan)

Popularity: 8% [?]

Filed Under: Safety

About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbangan pertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama dengan mengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkan masyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukan media yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankan prediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.